Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2023

Surat-surat Yang di Tinggalkan.

Praja itu banyak bicara. Aku juga banyak bicara. Namun, ia lebih banyak. Praja tidak akan pernah membiarkan sedikitpun bibirku terkunci, ia mencuri gemboknya dan menyuruhku untuk menjadi jawab atas tanda tanya besarnya pada seisi perut bumi. Seolah aku adalah kamus yang ia kantongi di sakunya dan memanggilku kapan saja seperti jin botol ketika dunia lagi-lagi memberi teka-teki persis pada koran miliknya dibawah meja ruang tamu. Kadang Praja memujiku, seharusnya Ibumu melahirkan kamu lebih cepat, Na. Tumbuhlah di masa orde baru. Jual mulutmu dengan harga yang sangat mahal. Tapi, kadang dia juga bilang, terlalu banyak informasi yang kamu dengar, Na. Nanti kamu serakah. Belum bulan Desember. Tapi Ibu sudah kebingungan harus menjemur baju kemeja biru kesukaan Ayah dimana lagi. Belum juga liburan semester. Tapi Praja sudah mengekoriku sejak kemarin meski aku hanya berdiam diri di rumahku. Praja memeluk kasurku pagi-pagi, kadang mencuri mangkok putih yang seharusnya kabur ke lorong jauh di ...